Tahun 2020 lalu, ketika pandemi strike, kita tau gak ada yg bisa dilakukan selain stay at home. Ada temen-temen yang start jualan makanan, groceries online, bikin workshop, whatever paid the bill at that time.
Dan gw juga, karena ga bisa do something outside, akhirnya mencoba hal baru. I ended up belajar trading. Coming from creative background, gw gak bakal kepikiran bakal harus banyak menggunakan otak kiri sekarang. Here’s how it started.
THE BEGINNING
Awalnya mulanya sih dari dunia crypto. Beberapa temen gw udah start duluan di tahun 2008. Karena tergiur dengan embel-embel web 3.0 dan new technology, gw penasaran apa sih yang ditawarin oleh blockchain ini.
I’m in for the tech dan potensial bisnis kedepannya. Seperti biasa, sebelum nyemplung lebih jauh, ya did some research and ended up nyoba shilling beberapa coin.
It was a good bull run back then, making money was easy. Till it’s not easy…
Gw selalu penasaran kenapa chart nya bisa naik turun, kenapa ‘lilin’nya ke atas, kenapa ke bawah, dan saya yang masih culunnya ya ngikutin sinyal trading doank.
Disuruh beli ya beli, disuruh jual ya jual, without any knowledge on risk management and healthy trading mindset. Menang senang, kalah maki admin.
Sampai di suatu titik gw nanya diri sendiri “Kenapa ya hidup gw harus bergantung sama sinyal dia?” and soon I found out “Oh, ternyata ada yang namanya Analysis”.
And down the rabbit hole I was…
Saya masih ingat buku trading pertama yang gw beli dari hasil profit trading di crypto.
CRYPTO WINTER
Admittedly, meskipun sudah mengkomsumsi materi belajar dari banyak banget sumber, crypto was extremely difficult to trade, mostly karena market hampir ga gerak!
Gw yang awalnya ogah trade selain crypto ternyata harus nyerah dan memperkenalkan diri di Forex. Gw pikir, kayanya forex ga seseru Crypto dengan volatilitasnya (I love volatility btw)
Dan ternyata, coming from crypto background yang volatilitasnya luar biasa, I found Gold and forex are much easier to trade. Speaking from an experienced trader yang MC berkali-kali di crypto.
GROWING SMALL ACCOUNT
Tidak seperti trader ataupun temen2 lainnya yang biasanya mulai dengan modal besar, justru saya mulai dengan modal yang sangat kecil. Yes, I’m trading, not investing. I have another account for investing.
Saya percaya bahwa, jika diberi $100 dolar aja belum bisa menghasilkan $1000, apalagi dikasi $10000. Selain itu, melatih kesabaran dan konsistensi sebelum dikasi equity yang jauh lebih besar, karena tentunya berpengaruh ke psikologi.
THE GROWTH
4 years of trading and learning, saya baru pelan-pelan konsisten profit di tahun 2023 akhir. Selama 3 tahun lebih, betapa banyak waktu yang sudah dihabiskan untuk belajar, baik dari youtube, private seminar, underground material (the internet is ultimate resource of knowledge, if you know where to find em).
Dan saya yakin, trading is a personal journey. I can give you signal but everyone has different mindset when it comes to trading.
Proses tidak mengkhianati hasil. It’s a beautiful experience ketika kamu melihat akun mu grow and profitmu pelan-pelan bertambah.
Yes, trading is not a quick rich scheme. Too bad industri ini sudah rusak karena oknum yang menjual janji-janji manis.
WHAT NEXT
My goal this year is to use the profit and join the prop firm through challenge. Buat yang belum tau prop firm, mereka ialah perusahaan yang mendanai trader dengan modal, dan sistem bagi hasil dari profit tersebut.
It started from passion.
Passion Building Makanmana, saya makan dapat duit.
Mudah-mudahan, dengan trading, saya tidur pun dapat duit.